Teknik baca puisi

November 29, 2009 pukul 1:27 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

1. Puisi Sebagai Karya Sastra
Puisi sebagai salah satu bentuk seni sastra telah dikenal sejak lama. Mantera atau jangjawokan adalah cikal bakal seni puisi yang kita kenal dewasa ini. Selain itu, juga pantun sunda termasuk jenis puisi lama yang masih dikenal hingga saat ini. Sesuai dengan perkembangan zaman, maka bentuk seni puisi pun mengalami kemajuan yang sangat besar. sehingga saat ini tidaklah mudah mencari rumusan untuk menjawab pertanyaan : apakah puisi itu. Secara etimologis kata puisi berasal dari bahasa latin, poieo, mula-mula artinya adalah membangun, poio atau poeo yang artinya membangun, menyebabkan menimbulkan, arti semula ini lama kelamaan semakin dipersempit ruang lingkupnya menjadi hail seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat-syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak dan kadang-kadang kata kiasan.

2. Baca Puisi sebagai Seni
Seorang penyair menciptakan puisi tentunya untuk dibaca oleh para penikmatnya. Dengan kata lain, penyair ingin berkomunikasi dengan khalayak melalui puisi yang diciptakannya. Sebuah puisi bisa dibaca dalam arti, bisa juga dibaca dihadapan publik. Membacakan puisi dihadapan publik itulah yang disebut poetry reading. Istilah poetry reading (baca puisi) pertama kali dipopulerkan oleh Rendra pada tahun 1972. namun jauh sebelumnya, seni baca puisi sesungguhnya telah cukup dikenal, bisa disebut dengan deklamasi. Sesungguhnya, antara baca puisi dan deklamasi tidak ada perbedaan yang mendasar. Dalam kamus Webster’s Illustrated Dictionary, deklamasi dijelaskan sebagai berikut: kegiatan atau seni membaca, pembacaan atau penyampaian suatu karya sastra dihadapan penonton. Jelaslah, tidak ada ketentuan bahwa yang dideklamasikan itu mesti dihapal. Bahkan, tidak ada ketentuan bahwa yang dideklamasikan itu mesti sebuah puisi. Pada dasarnya seorang pembaca puisi adalah perantara yang hidup antara penyair sebagai pencipta dengan pendengar (penonton) yang hendak menikmati puisi. Seorang pembaca puisi harus bisa menyajikan kembali hakikat puisi sesuai dengan apa yang dimaksud oleh penciptanya.
3. Teknik Baca Puisi
Seperti halnya dalam setiap jenis kesenian, dalam baca puisi pun terdapat teknik dasar yang mesti dipelajari oleh seorang calonpembaca puisi. Setelah dipelajari dan berlatih, teknik dasar ini nantinya diharapkan bisa menyatu didalam intuisi, menjadi spontanitas. Dengan kata lain. Teknik yang telah dipelajari itu tidak lagi menjadi bagian yang terperinci, melainkan sudah menjadi unsur yang padu.
3.1 Pemahaman / Penafsiran
Langkah pertama yang harus dilakukan seorang calon pembaca puisi adalah pemahaman terhadap puisi yang akan dibaca”pemahaman bisa dilakukan dengan cara membaca puisi tersebut secara keseluruhan dan berulang ulang, mencoba menentukan hakikat puisi agar tidak terjadi kekacauan dalam penafsiran.
Apabila seorang calon pembaca puisi telah memahami puisi yang akan dibacakannya dengan tepat maka penafisirannya pun tidak akan meleset. Pemahaman dan penafsiran adalah dua hal yang sejalan. Apabila pemahamannya ngawur akan menghasilkan penafsiran yang ngawur pula.
3.2 Penghayatan
Penghayatan sangat erat berkaitan dengan penafsiran. Penafsiran yang meleset terlalu jauh akan menghasilkan penghayatan yang ngawur. Apabila terjadi hal yang demikian, maka akibatnya akan sangat fatal, dan pembacaan puisi dapat dikatakan gagal.
Seorang pembaca puisi bertugas sebagai juru bicara yang harus dapat meyakinkan dan menikmatkan hati pendengar. Tanpa penghayatan yang baik dan meyakinkan, tidak mungkin akan dapat menikmatkan hati orang lain. Penghayatan yang baik akan menghasilkan emosi yang akan menggetarkan pendengar (penonton). Namun mesti di ingat bahwa seorang pembaca puisi, dalam menghayati sebuah puisi bukan hanya untuk dirinya sendiri. Ia menghayati puisi tersebut juga untuk menggugah penghayatan orang lain. Janganlah sampai terjadi seorang pembaca puisi tenggelam atau hanyut oleh keharuan orang yang ada dalam puisi itu, sebab pembaca puisi seperti itu tidak akan dapat lagi menguasai dirinya dengan baik. Karena dorongan emosinya yang berlebihan, dia akan tersedu-sedu, yang akan mengakibatkan kata-kata susah keluar karena tersekat ditenggorokannya. Bila terjadi hal yang demikian, bukannya simpati yang akan dia peroleh dari penonton, jadi haruslah tetap dijaga jarak antara pembaca puisi dengan puisi itu sendiri. “Takaran emosi” juga perlu diperhatikan oleh seorang pembaca puisi. Puisi yang satu berbeda takarannya dengan puisi yang lain. Alangkah janggalnya apabila seorang pembaca puisi Chairil Anwar “Senja di Pelabuhan Kecil” dengan tekanan emosi sebesar “Krawang Bekasi.” Seorang pembaca harus bergerak hanya di sekitar ruang yang diizinkan takaran bahannya.

3.3 Pengucapan
Bagi seorang pembaca puisi, teknik pengucapan jelas mempunyai tempat yang sangta penting. Karena dengan teknik pengucapanlah para penointon pertama-tama akan terpukau oleh seorang pembaca puisi, adapun teknik pengucapan tersebut terdiri dari
3.2.1 Volume
Volume suara adalah takaran perlahan atau kerasnya suara yang dikeluarkan. Seorang pembaca puisi mesti memulai pembacaan puisinya dengan suara yang cukup bisa didengar oleh penonton yang duduk dikursi paling belakang, dan bisa menaikan volume suaranya pada bagian klimaks sebuah puisi tanpa kehilangan kontrol. Daya penyampaian tersebut biasa disebut carying power.
3.2.2 Artikulasi
Artulukasi adalah ketepatan dan kejelasan dalam mengucapkan sebuah huruf atau suku kata. Seseorang mempunyai artikulasi yang baik adalah yang bisa mengartikulasikan huruf mati dan huruf hidup dengan sempurna. Seorang pembawa puisi mesti baik artikulasinya sebab apabila tidak, dia akan banyak menelan suku kata didalam kalimat yang diucapkannya. Hal tersebut akan mengganggu penikmatan para pendengar atau penonton Bunyi-bunyi yang hilang atau yang tak jelas ucapan itu adalah, waktu mengucapkan kalimat bibir dan lidah malas bergerak, sehingga bunyi-bunyi dihasilkan pada daerah artikulasi yang tidak tepat. Sebagai catatan, mengucapkan huruf-huruf latin didalam bahasa sunda tidak setegas atau sejelas seperti didalam bahasa Indonesia. Hal tersebut bukan diakibatkan oleh artikulasi yang jelek, tetapi sudah demikian adanya.
3.2.3 Intonasi
Intonasi adalah lagu kalimat
Intonasi dalam bahasa puisi tentu saja berbeda dengan pembacaan prosa. Intonasi baca puisi lebih berlagu karena pada dasarnya kata-kata dalam sebuah puisi selalu penuh dengan irama. Dengan demikian, seorang pembaca puisi dituntut untuk dapat mengungkapkan irama dalam sebuah puisi lewat intonasinya.Intonasi pembacaan puisi berbahasa Indonesia tentu saja berbeda dengan Intonasi dalam pembacaan pusisi berbahasa sunda.
3.2.4 Nada
Nada adalah tinggi rendahnya suara dalam pengucapan satu kata dalam sebuah kalimat. Bila kita perhatikan benar-benar tekanan nada lebih sering mencerminkan isi perasaan daripada pikiran. “Apa” bila berarti pertanyaan yang bisa juga berarti teguran keras. Demikian pula “bila” bisa berarti makian, tetapi bisa juga berarti pujian. Hal tersebut bergantung kepada nada ucapannya.
3.2.5 Dinamika
Dinamika adalah tekanan keras dalam pengucapan
Seorang pembaca puisi mesti mempergunakan tekanan dinamik ini untuk sepatah kata yang dianggap penting dalam sebuiah baris. Untuk baris terpenting dalam sebuah baik, untuk baik terpenting dalam keseluruhan puisi yang dibaca. Tekanan dianamik sangat berguna untuk memperjelas penafsiran seorang pembaca puisi terhadap pusisi yang dibawakannya.
3.2.6 Tempo
Tempo adalah lambat atau cepatnya pembacaan sebuah puisi. Puisi –puisi yang berisikan keharuan atau renungan biasanya dibacakan dengan tempo yang lambat. Namun, mesti diingat, apabila sebuah puisi dibaca dengan tempo yang lambat, tanpa memperhatikan dinamika maka pendengar (penonton) akan cepat menjadi bosan.
adapun puisi-puisi yang bersemangat biasanya dibacakan dengan tempo yang cepat dan semakin cepat pada bagian klimaks. Namun harap dicatat, menaikan tempo harus dibarengi dengan kecakapan berartikulasi yang bagus.
3.2.7 Jeda
Yang dimaksud dengan jeda adalah perhentian sesaat jeda yang umum dipergunakan dalam baca pusisi adalah jeda antar baik yang satui dengan bait yang lain. Selain itu, jeda juga dilakukan setelah mengucapkan larik atau bait puisi yang dianggap penting, maksudnya adalah agar bait atau lari tersebut bisa dicamkan oleh pendengar.
Jeda juga berguna untuk menciptakan irama. Namun penggunaannya mesti benar-benar selektif. Apabila terlalu sering menggunakan jeda akan mengakibatkan tempo pembacaan puisi menjadi lambat. Adapun jeda yang terlalu lama akan mengesankan pembacaan puisi putus, tidak ada kesatuan.

3.2.8 Irama
Yang dimaksud dengan irama adalah totalitas tinggi rendahnya suara, keras dan lembutnya suara, panjang pendeknya suara, cepat dan lambatnya pembacaan sebuah puisi.
Didalam sebuah puisi, kata yang dipilih sedemikian rupa selalu membentuk irama, dengan demikian, didalam baca puisi faktor irama ini sangat penting kedudukannya. Tanpa memperhatikan irama, baca puisi akan menjadi monoton dan membosankan.
3.2.9 Pengembangan/ membina puncak
Kita telah mengatahui, untuk keperluan baca puisi, mesti dipilih puisi yang memiliki klimaks yang jelas dan kuat, adapun yang dimaksud dengan klimaks adalah tanjakan besar yang terdiri dari tanjakan-tanjakan kecil sebelumnya. Klimaks biasanya diikuti oleh sebuah anti klimaks. Dengan demikian, tanjakan kecil dan besar tersebut harus ditemukan dan ditentukan terlebih dahulu.
Apabila tanjakan kecil dan tanjakan besar telah ditentukan, akan memudahkan bagi pembaca puisi untuk menerapkan teknik pengembangan, teknik pengembangan dilakukan agar pembacaan puisi tidak datar dan membosankan.
Teknik pengembangan dapat dicapai denagn menaikan volume suara, menaikan tinggi nada suara, menaikan tempo kecepatan suara, dan selanjutnya dengan menurunkan volume, tinggi nada dan kecepatan tempo suara.
Seorang pembaca pusisi mesti memulai pembacan puisinya dengan volume suara yang cukup. Apabila menemukan tanjakan kecil, maka ia mesti menaikan volume, tinggi nada, dan kecepatan tempo suaranya, dan menguranginya lagi pada bagian yang bukan merupakan tanjakan.
Pada tanjakan besar atau klimaks dia mesti menaikan volume tinggi nada dan kecepatan temp suara semaksimal mungkin, untuk kemudian diturunkan lagi pada bagian anti klimaks.
Apabila seseorang memulai pembacaan puisinya dengan suara yang keras dan tempo yang cepat, maka pada bagian klimaks dia akan kewalahan, dan akhirnya puncaknya tidak jelas, jadi seorang pembaca puisi harus bisa menahan diri sebelum klikas.
Dengan demikian, karena puncak itu ujung tanjakan, maka tingkatan-tingkatan perkembangan sebelumnya harus lebih rendah daripadanya. Dengan kata lain, seorang pembaca puisi harus menahan tingkatan-tingkatan-tingkatan perkembangan sebelumnya supaya tidak setinggi klimaks. Teknik menahan itulah yang dimaksud dengan teknik membina puncak.

3.4 Penampilan
Yang dimaksud dengan penampilan disini adalah mimik, sikap tubuh dan gerakan badan ketika seseorang sedang membacakan sebuah puisi. Hal tersebut dilakukan pada dasarnya adalah untuk menekankan makna kata atau kalimat dalam sebuah puisi.
Sering kita melihat pembaca puisi yang sibuk bergerak, badan miring kekiri dan kekanan, tangan kadang-kadang terbang keatas, kaki menyepak-nyepak persis seperti orang-orang yang kesurupan, hal-hal seperti itu mesti dihindari.
Gerak dilakukan pada bagian terpenting didalam sebuah puisi, atau bisa juga dilakukan pada bagian klimaks. Itupun harus jelas notofasinya, harus mengandung alasan, gerak yang tepat dan efektif akan mencerminkan ekspresi yang kuat
4. Penilaian Baca Puisi
Berdasarkan uraian diatas, untuk kepentingan lomba, maka pembaca, puisi bisa dinilai kemampuan penafsiran, penghayatan, pengucapan dan penampilannya. Jadi, seorang juri lomba baca puisi dapat menilai ke empat aspek tersebut.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: