Pengembangan kepemimpinan transpormasional

Juni 28, 2009 pukul 9:14 am | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar

Pengembangan kepemimpinan transpormasional

Faktor Utama yang menyebabkan rendahnya kemampuan lembaga pendidikan Islam dalam memberdayakan sumber daya yang dimilikinya adalah lemahnya kepemimpinan lembaga pendidikan.Dimasa kini dan masa mendatang kepemimpinan lembaga pendidikan Islam dituntut untuk memiliki kemampuan (1) mengidentifiksi diri sebagai agen perubahan (2) berani dan teguh, (3) memiliki kepercayaan pada orang lain, (4) dapat berperan sebagai value-driven, (5) memiliki sikap pembelajar seumur hidup, (6) mempunyai kemampuan untuk menghadapi kompleksitas, dan ketidakpastian, serta (7) visionaris.

  1. A. Tangtangan Umum Pendidikan di Indonesia

Masalah-masalah internal sistem pendidikan kita :

Pertama rendahnya pemerataan kesempatan belajar (equity)

Kedua rendahnya mutu akademik terutama dalam penguasaan ilmu pengetahuan alam, matematika, serta bahasa.

Ketiga redahnya efisiensi internal, terutama dengan banyaknya peserta didik yang mengulang kelas dan lamanya masa studi yang melampaui waktu standar yang ditetapkan.

Keempat rendahnya efisiensi eksternal sistem pendidikan atau yang biasa disebut dengan relevansi pendidikan.

Kelima, kecendrungan terjadinya penurunan akhlak dan moral.

Para ahli memperkirakan bahwa problematika kemanusiaan dan lingkungan yang akan dihadapi umat manusia dimasa mendatang akan lebih serius, kompleks, dan endemik.

Umat manusia dimasa yang akan datang diperkirakan akan terjangkit penyakit-penyakit psikososial yang akut dan endemik. Keterasingan (alienation), stres, keberingasan sosial, ekstrimitas, kecanduan dan ketergantungan luar biasa pada obat, dan lain sebagainya adalah jenis-jenis penyakit psikososial-sosial yang akan banyak ditemui pada umat manusia dimasa mendatang.

  1. B. Pendidikan Islam Sebagai Alternatif

Dalam membangun manusia yang segenap potensinya berkualitas, diperlukan lembaga pendidikan terpadu yang unsur-unsur kependidikannya memadai.

Model pendidikan yang berbasis kepada paradigma pendidikan Islam sesungguhnya telah diterapkan di beberapa lembaga pendidikan terpadu, namun, karena sistem pendidikan yang baik harus memeperhatikan prinsip pemertaan (equity), maka model pendidikan tersebut perlu dikembangkan secara lebih luas. Upaya ini hanya bisa dilakukan apabila partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan dapat ditingkatkan, sehingga pendidikan tidak hanya merupakan tanggung jawab pemerintah semata, tetapi juga menjadi tanggung jawab masyarakat.

  1. C. Tangtangan-tangtangan Lembaga Pendidikan Islam

Melihat pola pendidikan Islam yang berkembang di Indonesia, orientasi pendidikannya diarahkan untuk mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan dan penghayatan nilai-nilai ajaran Islam, tampaknya tidak menjadi problem yang begitu mendesak.

Tangtangan yang dihadapi secara serius adalah bagaimana pendidikan Islam mampu mempersiapkan peserta didik untuk bersaing di dunia kerja setelah mereka lulus.Dalam konteks ini, terdapat dua problem yang dihadapi oleh pendidikan Islam, yaitu sebagai berikut:

Pertama, problem yang berkaitan denagn dualisme-ilmu. Dualisme ilmu antara “ilmu-ilmu agama” disatu sisi dan “Ilmu-ilmu sekuler”

Kedua, problem yang terkait dengan kualifikasi guru dan tenaga pengajar.

Tangtangan eksternal yang dihadapi oleh pendidikan Islam sekarang ini dapat dibagi ke dalam dua jenis. Pertama adalah tangtangan yang berkembang bersamaan dengan krisis yang dialami oleh manusia dan peradaban modern yang terjadi secara lebih spesifik dihadapi oleh bangsa Indonesia.

Oleh karena, optimalisasi lembaga pendidikan Islam menajdi suatu tuntutan yang tidak dapat ditawar, maka untuk itu diperlukan kepemimpinan lembaga pendidikan Islam yang tangguh, Visioner, kreatif, inovatif, serta mampu memberi motivasi, semangat, dan spirit kerja kepada bawahannya.

  1. D. Signifikan Pengembangan Strategi Kepemimpinan Lembaga Pendidikan Islam

Konsekuensi dari pembelajaran yang dapat mengembangkan potensi kepasitas anak didik adalah model sekolah yang mempunyai karakteristik; (a) kepemimpinan pendidikan yang profesional; (b) fokus diperkirakan pada masa depan; (c) tes sebagai umpan balik berkesinambungan: (d) iklim sekolah yang menyenangkan; (e) pengembangan dasar keahlian.

Eksistensi lembaga pendidikan islam tersebut mengandung makna yang melintasi dimensi kemasyarakatan dan kebijakan pendidikan, baik pada tataran lokal maupun nasional.

Pada hakikatnya, penyelenggaraan pendidikan dibangun oleh kebersamaan dan dipengaruhi oleh berbagai faktor pendukungnya.

Sedangkan faktor pendukungnya adalah seperangkat masukan, dalam proses pendidikan dan keluaran mempunyai tingkat ketergantungan yang tinggi untuk sinergi. Adapun faktor-faktor sebagai tangtangan yang dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam, meliputi hal-hal berikut:

  1. Manajemen
  2. Kepemimpinan Lembaga Pendidikan Islam

Kondisi itu dapat diidentifikasi secara analisisi empirik, antara lain sebagai

  1. Krisis kepercayaan terhadap pimpinan merupakan salah satu dasar dalam menurunnya komitmen anggota organisasi.
  2. Sistem rekruitmen pemimpin di lingkungan pendidikan Islam dipandang dari sudut pengembangan sumber daya manusia kependidikan masa kini.
  3. Terbatasnya otonomi kepemimpinan lembaga pendidikan Islam.
  4. Tereduksinya nilai-nilai pengawasan yang dilaksanakan oleh tingkat vertikal atas (pengawas)
  5. Kondisi diatas, dapat diduga bahwa kinerja madrasah belum memuaskan sesuai dengan harapan masyarakat.

KARAKTERISTIK LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

  1. A. Hakikat Lembaga Pendidikan Islam

Pendidikan dilaksanakan untuk mengantarkan anak didik dalam menghadapi masa depannya. Dengan demikian, pendidikan selalu berorientasi untuk masa depan, tanpa harus melupakan sejarah dan masa lalu.

Pendidikan Islam adalah bersumber pada pendidikan yang diberikan oleh Allah sebagai pendidik seluruh ciptaaan-Nya, termasuk manusia. Dalam konteks yang luas, pengertian pendidikan Islam yang terkandung didalam kata al-tarbiyah terdiri atas empat unsur pendekatan, yaitu (1) memelihara dan menjaga fitrah anak didik menjelang dewasa (baligh); (2) mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan; (3) mengerahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan; dan (4) melaksankan pendidikan secara bertahap. (An-Nahlawy, 1992:32).

Dengan demikian, maka pendidikan Islam dapat dimaknai sebagai satu proses penyampaian informasi (berkomunikasi) yang kemudian diserap oleh masing-masing pribadi (internalisasi), sehingga menjiwai cara berfikir, besikap, dan bertindak (Individulaisasi), baik untuk dirinya maupun hubungannya dengan Allah (Ibadah) dan hubungannya dengan manusia lain atau masyarakat (Sosialisasi) serta makhluk lain dalam alam semesta maupun lingkungan (mu’amalah ma’a al-makhluk) dalam kedudukannya sebagai hamba Allah.

  1. B. Dasar Penyelenggaraan Lembaga Pendidikan Islam

Karena dasar atau landasan pendidikan sangat bergantung kepada pandangan hidup (worldview), filosofi, dan kesadaran masyarakat suatu bangsa, maka setiap bangsa mempunyai dasar pendidikannya sendiri, yang mungkin berbeda dengan dasar pendidikannya sendiri, yang mungkin berbeda dengan dasar pendidikan bangsa lain.

Penyelenggaraan lembaga pendidikan Islam di Indonesia memiliki dua dasar atau landasan, yaitu (1) landasan atau dasar ideal, dan (2) landasan konstitusional.

  1. 1. Landasan atau dasar ideal

1)      Al-Qur’an

Nabi Muhammad saw sebagi pendidik pertama. Pada masa awal pertumbuhan Islam telah menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar pendidikan Islam di samping Sunnah beliau sendiri.

2)      Sunnah

Amalan yang dikerjakan oleh Rasulullah saw. Dalam proses perubahan hidup sehari-hari menjadi sumber utama pendidikan Islam setelah Al-Qur’an, karena Allah SWT menjadikan Muhammad sebagai teladan bagi umatnya.

3)      Perkataan, Pebuatan dan sikap dan Sikap Para sahabat

Perkataan mereka merupakan sumber yang memiliki validitas normatif, karena Allah sendiri telah menjamin didalam Al-Qur’an tentang keagungan para sahabat.

4)      Ijtihad

Al-Qur’an dan Hadist disebut dasar pokok, sedangkan sikap dan perbuatan para (atsar) sahabat serta ijtihad disebut sebagai dasar tambahan. Dasar tambahan ini dapat dipakai selama tidak bertentangan denga dasar pokok.

  1. 2. Landasan Konstitusional

Keberadaan lembaga pendidikan Islam secara konstitusional telah diakui, terutama dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

  1. C. Prinsip-prinsip Penyelenggaraan Lembaga Pendidikan Islam

Dikaitkan dengan penyelenggaraan pendidikan, agaknya prinsip pendidikan dapat diartikan sebagai kebenaran universal, yang dapat dijadikan dasar dalam merumuskan perangkat pendidikan, prinsip pendidikan dapat diambil dari dasar pendidikan, baik berupa agama ataupun ideologi negara yang dianut.

  1. 1. Prinsip yang berangkat dari Hakikat Manusia Menurut Islam

Pendidikan Islam berdiri diatas prinsip yang memandang manusia memiliki tiga hakikat, yaitu : (1) fitrah, (2) kesatuan ruh dan jasad; (30 kebebasan berkehendak.

  1. 2. Prinsip Integral dan terpadu

Tidak dibenarkan adanya dikotomi pendidikan, yaitu antara pendidikan agama dengan pendidikan agama dengan pendidikan umum. Para peserta didik harus dapat memahami Islam sebagai a total way of life yang dapat mengatur berbagai aspek kehidupan manusia. Pendidik garus dapat melakukan perubahan orientasi mengenal konsep “ilmu” yang secara langsung dikaitkan dengan dalil-dalil keagamaan, dan sebaliknya ajaran agama dikorelasikan dengan ilmu pengetahuan, sehingga wawasan anak didik menyatu dalam agama dan ilmu pengetahuan.

  1. 3. Prinsip Keseimbangan

Prinsip keseimbangan yang mendasari pendidikan Islam yaitu :

a)      Keseimbangan antar kehidupan duniawi dan ukhrawi

b)      Keseimbangan antara badan dan ruh, dan

c)      Keseimbangan antara individu dan masyarakat. (ramayulis 2004:12)

  1. 4. Prinsip Universal

Prinsip universal ini maksudnya adalah pandangan yang menyeluruh pada agama, manusia, masyarakat, dan kehidupan Agama Islam yang menjadi dasar pendidikan Islam itu bersifat universal, baik dalam pandangan dan tafsirannya terhadap wujud, alam jagat, maupun pandanganya terhadap kahidupan.

  1. 5. Prinsip Dinamis

Prinsip ini menekankan pada dinamika pendidikan, khususnya yang terkait tujuan atau kompetensi yang ingin dicapai, kurikulum pendidikan, dan metode-metode pembelajarannya, bahkan pendidikan Islam selalu membaharui diri dan mengembangkannya.

  1. D. Tujuan Penyelenggaraan Lembaga Pendidikan Islam

Tujuan pendidikan Islam harus mengacu kepada Al-Qur’an,Hadist, serta tujuan pendidikan Nasional, yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional.

Menurut Abu Ahmadi (1999:63) tahap-tahap tujuan pendidikan Islam secara konseptual meliputi : (1) tujuan tertinggi/terakhir; (2) tujuan umum; (3) tujuan khusus; dan (4) tujuan sementara.

  1. E. Kurikulum Pendidikan pada lembaga Pendidikan Islam

Kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga, dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-murdinya di dalam dan diluar sekolah dengan maksud menolong untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan (Asy-Syaibany, 1979:485).

Konsep dasar kurikulum menurut fungsinya

  1. 1. Konsep Kurikulum Pendidikan
    1. Kurikulum sebagai program studi
    2. Kurikulum sebagai Konten
    3. Kurikulum sebagai kegiatan berencana
    4. Kurikulum sebagai hasil belajar
    5. Kurikulum sebagai reproduksi kultural
    6. Kurikulum sebagai pengalaman belajar
    7. Kurikulum sebagai produksi
  1. 2. Dasar Kurikulum Pendidikan Islam
    1. Dasar Agama
    2. Dasar falsafah
    3. Dasar Psikologis
    4. Dasar Sosial

Dengan berlandaskan kepada dasar-dasar ini, maka diharapkan kurikul pendidikan Islam akan dapat mengantarkan pendidikan Islam pada tujuan yang diharapkan.

  1. 3. Prinsip-prinsip Kurikulkum Pendidikan Islam

Prinsip-prinsip acuan kurikulum pendidikan Islam adalah sebagai berikut:

  1. Berorientasi pada Islam
  2. Prinsip menyeluruh (universal)
  3. Prinsip keseimbangan yang relatif antar tujuan –tujuan dan kandunga-kandungan kurikulum
  4. Prinsip-prinsip interaksi prinsip pemeliharaan perbedaan-perbedaan individual diantar peserta didik.
  5. Prinsip perkembangan dan perubahan
  6. Prinsip Pertautan (Integritas)
  7. F. Karakteristik Pondok Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan Islam
    1. 1. Asal-usul Pesantren

Pondok pesantren adala lembaga pendidikan tertua di tanah air. Ia diperkirakan sudah ada sejak negeri ini belum merdeka.

Pendidikan pesantren memiliki dua sistem pengajaran, yaitu sistem sorogan, yang sering disebut sistem Individual, dan sistem bandongan atau wetonan yang sering disebut kolektif.

Metode utama sistem pengajaran di lingkungan pesantren ialah sistem bandongan atau weweton.

Pesantren sekarang ini dapat dibedakan kepada dua macam yaitu pesantren tradisional dan pesantren modern.

Tujuan proses modernisasi pondok pesantren adalah berusaha untuk menyempurnakan sistem pendidikan Islam yang ada dipesantren.

Sebuah pesantren meniscayakan dirinya dengan kelengkapan adanya :

  1. Pondok/Asrama
  2. Masjid
  3. Santri
  4. Kiai
  5. Kegiatan Belajar Mengajar (Dhofier, : 1994:28)
  1. 2. Pembelajaran di Pesantren

Istilah kegiatan belajar mengajar di pesantren yang lazim digunakan oleh para santri adalah “Pengajian” yang didalamnya mengandung kesakralan.

Pola pengajian di Pesantren secara garis besar dapat dibedakan sebagai berikut;

  1. 1. Sistem Sorogan

Model pengajian sorogan adalah cara-cara belajar yang diterapkan kepada santri baru yang masih memerlukan bimbingan individual.

  1. 2. Sistem Bandongan

Metode belajar dengan menggunakan sistem bandongan merupakan metode utama sistem pendidikan pesantren. Dalam model in, sekelompok santri (antara 5 sampai 500 orang) mendengarkan dan memperhatikan seorang kiai yang membaca, menerjemahkan, menerangkan, dan seringkali mengulas kitab kuning/klasik.

  1. 3. Sistem Musyawarah

Pengikut sistem ini terbatas bagi mereka yang betul-betul telah menguasai materi kitab kuning/klasik dengan baik (santri senior atau ustadz). Pola belajar dengan menggunakan sistem ini lebih mirip dengan metode diskusi atau seminar.

  1. G. Karakteristik Madrasah Sebagai Lembaga Pendidikan Islam

Kelahiran madrasah sesungguhnya juga berlandaskan pada dua faktor penting, Pertama pendidikan Islam tradisional (surau, masjid, pesantren) dianggap kurang sistematis dan kurang memberikan kemampuan pragmatis yang memadai. Kedua, laju perkembangan sekolah-sekolah gubernemen dikalangan masyarakat cenderung meluas dan membawa watak sekularisme, sehingga harus diimbangi dengan sistem pendidikan Islam yang memiliki model dan organisasi yang lebih teratur dan terencana. Pertumbuhan madrasah sekaligus menunjukan adanya dua pola respon umat islam yang lebih progresif, tidak semata-mata defensif, terhadap politik pendidikan Hindia Belanda.

PENDIDIKAN KEPEMIMPINAN DALAM PERSEPEKTIF ISLAM

  1. A. Konsespi Umum Kepemimpinan
    1. 1. Pengertian dan Hakikat Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah pengaruh yang dimiliki seseorang dan pada gilirannya akibat pengaruh yang dimiliki seseorang dan pada gilirannya akibat pengaruh itu bagi orang yang hendak dipengaruhi. Peranan penting dalam kepemimpinan adalah upaya seseorang yang memainkan peran sebagai pemimpin guna mempengaruhi orang lain dalam organisasi/lembaga tertentu untuk mencapai tujuan,

  1. 2. Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi Kependidikan

Seorang pemimpin dapat digambarkan sebagai orang yang bekerja sesuai dengan kebutuhan waktu, dan sangat terlatih untuk mencari dan menganalisi informasi secara berkesinambungan.

  1. 3. Kepimimpinan dan Masalah/Misi Organisasi

Faktor dominan dalam pengambilan keputusan pihak pimpinan, adalah perumusan misi, tujuan dan sasaran yang diemban oleh institusi

Misi merupakan pernyataan tentang tujuan organisasi yang diekspresikan dalam produk dan pelayanan yang ditawarkan sesuai kebutuhan yang dapat ditanggulangi, kelompok masyarakat yang dilayani, nilai-nilai yang dapat diperoleh, serta aspirasi dan cita-cita dimasa depan.

Visi keberhasilan dapat dijelaskan sebagai suatu deskripsi tentang bagaimana seharusnya rupa dari suatu organisasi pada saat ia berhasil dengan sukses melaksanakan strateginya dan menemukan dirinya yang penuh potensi yang mengagumkan.

  1. 4. Kepemimpinan dan Fungsi memotivasi

Motivasi dan kepemimpinan merupakan dua topik dari wilayah yang mandasar bagi peneliti dan praktisi manajer, khususnya menganalisis posisi dan perilaku organisasi.

Motivasi merupakan suatu konsep fenomena yang kompleks sebab mempunyai efek dan multisikap yang dapat dirasakan.

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pemahaman motivasi kerja meliputi : (1) apakah ada tenaga manusia untuk berperilaku, (2) apakah perilaku itu harus ada penghubung, (3) apakah perilaku harus dipelihara.

  1. 5. Model-Model Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah kemampuan untuk menggunakan berbagai kekuasaan untuk mempengaruhi perilaku pengikut melalui sejumlah cara.

  1. pendekatan ciri terhadap kepemimpinan
  2. pendekatan perilaku terhadap kepemimpinan
  3. pendekatan fungsi kepemimpinan
  4. pendekatan kontingensi terhadap kepemimpinan
  5. pendekatan kekuatan
  1. 6. Berbagai Pendekatan dalam Studi Kepemimpinan

Berikut uraian keempat macam pendekatan tersebut.

  1. Pendekatan pengaruh kewibaawaan (power influence approach)
  2. Pendekatan sifat (the trait approagh)
  3. Pendekatan perilaku (the behavior approach)
  4. Pendekatan situasional (situational approach)

  1. 7. Fungsi-fungsi Kepemimpinan

Fungsi-fungsi kepemimpinan yaitu; membangkitkan kepercayaan dan loyalitas bawahan, mengkomunikasikan gagasan kepada orang lain, dengan berbagai cara mempengaruhi orang lain, menciptakan perubahan secara efektif didalam penampilan kelompok, dan menggerakan orang lain, sehingga secara sadar orang lain tersebut mau melakukan apa yang dikehendaki. (wahjosumidjo).

  1. 8. Syarat-syarat Kepemimpinan

Pemimpin yang berkualitas adalah pemimpin yang memiliki kemampuan dasar, kualifikasi pribadi, serta pengetahuan dan keterampilan profesional. Keahlian atau kemampuan dasar, yaitu sekelompok kemampuan yang harus dimiliki oleh tingkat pemimpin apapun, yang mencakup: conceptual skills, human skill, dan technical skills. (Tracey, 1974;53-550.

  1. 9. Gaya Kepemimpinan

Kepemimpinan merupakan kemampuan dari seseorang dalam mempengaruhi dan menggerakan bawahan dalam suatu organisasi guna tercapainya tujuan organisasi. Terdapat empat macam pendekatan studi kepemimpinan, yaitu : (1) pendekatan pengaruh kewibawaan, (2) pendekatan sifat, (3) pendekatan perilaku, dan (4) pendekatan situasional.

  1. B. Kepemimpinan dalam Persefekti Islam
    1. 1. Konsepsi Umum Kepemimpinan Islam

Pada dasarnya, Al-Quran dan hadist tidak membedakan jenis kepemimpinan dalam masyarakat. Karena menurut konsepsi Islam, seorang pemimpin masyarakat, idealnya juga harus menjadi pemimpin agama.

  1. 2. Syarat-syarat Kepemimpinan Islam

Beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang akan menjadi pemimpin, syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Kuat akidahnya
  2. Adil dan Jujur
  3. Mencintai dan mengutamakan kepentingan rakyat dari pada kepentingan golongan.
  4. Mampu menumbuhkan kerjasama dan solidaritas sesama umat.
  5. Bersikap terbuka dan sanggup mendengarkan pendapat dan ide orang lain.
  6. Pemaaf dan memiliki jiwa teleransi yang tinggi.
  1. 3. Petunjuk Menjadi Pemimpin Yang baik

Untuk menjadi pemimpin yang baik harus memperhatikan pedoman-pedoman berikut ini.

  1. Menjungjung tinggi prinsip musyawarah
  2. Membuat kebijaksanaan dan perintah yang baik dan benar.
  3. Memiliki pengetahuan yang memadai
  4. Ikhlas
  5. Bertanggung jawab
  6. Tidak berlaku boros dan melampaui batas.

STRATEGI KEPEMIMPINAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

  1. A. Model-Model Kepemimpinan

Sebagai gambaran tentang kepemimpinan yang daipandang representatif dalam menghadapi perubahan, akan dibahas terlebih dahulu model kepemimpinan.

  1. 1. Model Kepemimpinan Transaksional

Pemimpin transaksional adalah layaknya seorang manajer (is very much a manager), dan tidak dianggap sebagai pemimpin dalam arti sesungguhnya.

  1. 2. Model kepemimpinan Transasksional

Konsep awal tentang kepemimpinan transformasional telah dimulai sejak Burns (1978) menjelaskan kepemimpinan trasformasional sebagai suatu proses yang pada dasarnya “para pemimpin dan pengikut saling menaikan diri ke tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi’.

  1. “I” pertama adalah Idealized influence.
  2. ‘I” kedua adalah Inspiration motivation.
  3. “I” ketiga adalah Intellection stimulation
  4. “I” keempat Individualized consideration
  1. 3. Perbedaan Perilaku Transaksional

Burs membedaan kepemimpinan yang mentransformasi (tranforming leadership) dengan kepemimpinan transaksional (transactional leadership).

Para pemimpin korporasi saling menukar upah dan usaha transaksional dengan bawahan menyangkut nilai-nilai, berupa nilai-nilai yang relevan bagi proses pertukaran, seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab. Kepemimpinan adalah sebuah proses, bukan sejumlah tindakan yang mempunyai ciri-ciri sendiri.

  1. 4. Kepemimpinan Transaksional Versusu Kepemimpinan Kharismatik

“Kharismatik adalah bagian yang penting dari kepemimpinan transformasional, namun kharisma itu sendiri tak cukup bagi proses transformasional, namun kharisma itu sendiri tak cukup bagi proses transformasional.

Pemimpin kharismatik lebih daripada hanya percaya diri dalam keyakinannya, mereka melihat dirinya seperti mempunyai tujuan dan takdir supranatural.

  1. 5. Hubungan Kepemimpinan dan Budaya Organisasi

Hakikat kepemimpinan adalah mentrasformasikan atau memperkuat kembali sebuah organisasi. Budaya adalah aset yang tidak nyata (intangible asset) pada organisasi dan cenderung tidak langsung, tetapi mempunyai peranan penting sebagai cara befikir, menerima keadaan dan merasakan sesuatu dalam organisasi.

  1. a. Budaya organisasi

Persefektif budaya organisasi tampak memberikan pemahaman kapada kita bahwa budaya organisasi tidak hanya dapat didefinisikan, melainkan dapat diwujudkan dalam berbagai aktivitas organisasi oleh seluruh unsur yang ada.

  1. b. Karakterisktik budaya Organisasi

Budaya organisasi bersifat relatif bervariasi sesuai dengan karakteristiknya. Karaketristiknya organisasi, ditentukan oleh faktor-faktor seperti latar belakang, tujuan, dan sasaran, serta waktu dan tempat. Namun demikian ada beberapa faktor dominan yang dapat dijadikan bahan pengkajian.

Karakteristik penting dari budaya organisasi yaitu sebagai berikut:

  1. Aturan-aturan perilaku
  2. Norma-norma
  3. Nilai-nilai dominan
  4. Filosofi
  5. Peraturan-peraturan
  6. Iklim organisasi
  1. c. Model-model budaya organisasi

Budaya organisasi secara umum juga dapat diklasifikasikan menurut tipe-tipenya, meliputi budaya organisasi kekuasaan, budaya organisasi paran, budaya organisasi tugas, dan budaya organisasi tugas, dan budaya organisasi suportif (luthans; 1989;3200)

  1. d. Pengaruh Budaya pada kinerja

Budaya jelas mempengaruhi kinerja dan perilaku organisasi. Pengaruh budaya kerja terhadap organisasi. Pengaruh budaya kerja terhadap organisasi dapat dibedakan atas tiga aspek pengaruh, yaitu mengarahkan, merambatkan dan menguatkan.

Budaya merupakan pengaruh positif pada organisasi jika menimbulkan perilaku pada arah (tujuan) yang benar, meresap secara meluas pada anggota organisasi untuk mengikuti budaya yang telah ditetapkan.

  1. e. Tingkatan Budaya Organisasi

Tingkatan budaya yang berlainan, yaitu : (1) budaya tingkat pertama, bermanifestasi didalam norma-norma perilaku yang diartikan sebagai suatu perangkat aturan tak tertulis. (2) budaya tingkat kedua, bermanifestasi di dalam asumsi-asumsi tersembunyi, merupakan kepercayaan mendasar yang berada dibelakang semua tindakan dan keputusan. (3) budaya tingkat ketiga, berada pada tingkat terdalam dimana budaya manifestasi kolektif dari sifat dasar (alam) manusia, seperti, sekumpulan dinamika manusia, keinginan, motivasi, hasrat yang membuat kelompok atau individu itu unik.

  1. f. Ruang lingkup Budaya organisasi

Budaya kerja secara operasional sebagai berikut:” Budaya asumsi-asumsi yang dianut menuntun dan mempengaruhi pola perilaku kerja serta cara bekerja anggota-anggota organisasi, termasuk dalam organisasi pendidikan.

  1. B. Kepemimpinan Transformasional sebagai Strategi kepemimpinan Lembaga Pendidikan Islam.

Kepemimpinan transformasi dapat menjadi salah satu alternatif. Hal itu dilihat dari prinsip konseptual yang kerangka kerjanya sederhana, yaitu pimpinan dapat melakukan pemberdayaan personil melalui kemampuan intelektualnya, melalui membangun motivasi, membangun konsiderasi individu atau kelompok dan idealisme melalui keteladanan.

Adapun yang dipandang sebagai kelemahan konsep ini dalam penerapannya adalah : Pertama, kekuatan kualitas dan kompetensi personil. Kedua, adanya perbedan karakter anggota organisasi.

C. Peran Kepemimpinan Transformatif dalam Pengendalian Pelayanan Lembaga Pendidikan IslamPengendalian Pelayanan

Pada bidang jasa, mutu dimaknai sebagai pelayanan suatu kegiatan dan hasil kerja. Mutu merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi ataun melebihi harapan, karakteristik mutu yang sebenarnya adalah menurut persepsi dan penilaian konsumen. Kebutuhan dan harapan konsumen terhadap mutu suatu produk atau jasa dari hari ke hari akan berubah dan terus meningkat.

  1. 2. Prinsip Konsep Pelayanan

Menerapkan konsep pelayanan untuk kegiatan produksi aplikasi secara tradisional, biasanya melakukan inspeksi terhadap suatu produk yang telah selesai dibuat dengan jalan menyortir produk yang telah selesai dibuat dengan jalan menyortir produk yang baik dari yang jelek, kemudian mengerjakan ulang bagian-bagian produk yang cacat itu. Dengan demikian, pengertian tradisional tentang konsep kualitas hanya berfokus kepada aktivitas inspeksi untuk menncegah lolosnya produk-produk cacat ke tangan pelanggan.

  1. 3. Total Quality Management

TQM diartikan sebagai perpaduan semua fungsi dari perusahaan kedalam falsafah holistik yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, team work, produktivitas dan pengertian serta kepuasan pelanggan.

Pemimpin transformasional selalu mempunyai tujuan untuk menghasilkan suatu hasil yang baik dengan berperilaku sebagai berikut:

  1. Stimulasi intelektual
  2. Konsiderasi individu
  3. Motivasi inspirasional
  4. Pengaruh idealisme


PERAN SERTA KEPEMIMPINAN DALAM MEWUJUDKAN MUTU PENDIDIKAN ISLAM

  1. A. Konsepsi Mutu Pendidikan

Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah merupakan paradigma baru dalam pengelolaan pendidikan di Tanah air. Paradigma ini lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas lembaga penyelenggara pendidikan.

Keberhasilan lembaga pendidikan ditandai oleh beberapa indikator kunci, yaitu : (1) lingkungan lembaga pendidikan yang aman dan tertib (2) lembaga pendidikan memiliki misi dan target mutu yang ingin dicapai, (3) lembega pendidikan memiliki kepemimpinan yang kuat, (4) adanya harapan yang tinggi untuk berprestasi dari semua elemen lembaga pendidikan, (5) adanya pengembangan sumber daya manusia yang terus menerus sesuai tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, (6) adanya pelaksanaan evaluasi yang terus menerus terhadap berbagai aspek akademik dan asministratif, pemamfaatan hasilnya untuk penyempurnaan/perbaikan mutu, dan (7) adanya komunikasi dan dukungan intensif dari masyarakat.

Mutu adalah suatu terminologi subjektif dan relatif yang dapat diartikan dengan berbagai cara dimana setiap definisi dapat didukung oleh argumentasi yang sama baiknya.

Mutu proses dan hasil pendidikan biaanya dilihat melalui : (1) rentangan pencapaian kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa, (2) penerimaan dunia kerja (3) nilai-nilai dalam masyarakat, (4) perubahan kondisi masyarakat, dan (5) kehidupan masyarakat.

Konsep manajemen mutu ini tetap menuntut lembaga pendidikan untuk selalu berorientasi pada mutu hasil pendidikan.

  1. B. Peran Kepemimpinan dalam Pengendalian Mutu

Seorang pemimpin lembaga pendidikan akan menjadi sandaran bagi elemen lembaga pendidikan lain, khususnya masyarakat, sejauh mana ia dapat menjamin lembaga pendidikannya bermutu (proses dan hasil pendidikan)

Proses penjaminan mutu biasanya terdiri dari tujuh langkah, yaitu (1) penetapan standar (2) pengujian/audit mengenai sistem pendidikan yang sedang berlangsung, (3) penyimpulan tentang ada tidaknya kesenjangan antara sistem yang ada dengan standar yang ditetapkan, bila terdapat kesenjangan, maka akan ditempuh langkah (4) identifikasi kebutuhan yang memenuhi standar yang ditetapkan, dilanjutkan dengan (5) pengembangan sistem perbaikan dan (6) memadukan sistem perbaikan dengan sistem yang sedang berlangsung. (7) pengkajian ulang kesesuaian standar dengan sistem secara berkelanjutan.

  1. C. Kepemimpinan dan Upaya Pengembangan Kerangka Kerja Pengembangan Mutu

Pimpinan lembaga pendidikan dituntut memiliki kerangka kerja dalam mengelola dan mengkoordinasikan berbagai komponen pendidikan, yang mencakup:

Pertama, sumber daya

Kedua, Pertanggungjawaban (Accountability)

Ketiga, Kurikulum khusus untuk lembaga pendidikan Islam formal, pemerintah telah menetapkan standar kompetensi atau kurikulum standar yang berlaku secara nasional.

Keempat, warga belajar

. Strategi Pengembangan Mutu

Pimpinan lembaga pendidikan bersama segenap komponen lembaga pendidikan dituntut untuk melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

Pertama, Penyusunan basis data dan profil lembaga pendidikan presentatif, akurat, valid, dan secara sistematis menyangkut berbagai aspek akademis, administratif, dan keuangan.

Kedua, melakukan evaluasi diri (self assesment) untuk menganalisis kekuatan dan kelemahan mengenai sumber daya sekolah.

Ketiga, berdasarkan analisis tersebut, kemudian lembaga pendidikan mengidentifikasikan kebutuhannya, serta merumuskan visi, misi, dan tujuan.

Keempat, berangkat dari visi, misi dan tujuan peningkatan mutu tersebut lembaga pendidikan bersama-sama dengan masyarakatnya merencanakan dan menyusun program jangka panjang atau jangka pendek tahunan termasuk anggarannya.

Strategi yang dapat ditempuh oleh pimpinan lembaga pendidikan demi terealisasinya mutu pendidikan yaitu:

  1. Menciptakan situasi”menang-menang” (win-win situation) dan bukan situasi”kalah menang” diantara pihak yang berkepentingan dengan lembaga penddiikan (stakeholders)
  2. Perlunya dikembangkan motivasi instrinsik pada setiap orang yang terlibat dalam proses meraih mutu.
  3. Setiap pimpinan dituntut berorientasi pada pross dan hasil jangka panjang.
  4. Dalam menggerakan segala kemampuan lembaga pendidikan untuk mencapai mutu yang ditetapkan, haruslah dikembangkan adanya kerjasama antar unsur-unsur pelaku proses mencapai hasil mutu.

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Sebuah tulisan yg amat berharga. Jk boleh, sy minta dikirimi via email indikator kepemimpinan transformasional dan resistensi untuk berubah.. Thank….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: